Terapi Pengobatan Kecanduan Narkoba

0 komentar


Mengobati kecanduan narkoba memang bukan perkara mudah. Saking beratnya, pecandu bahkan bisa kembali lagi terjerat narkoba meski sudah menjalani terapi. Berbagai terapi pun banyak ditawarkan untuk menghilangkan kebiasaan mengonsumsi barang-barang adiktif tersebut.

Jika memang benar-benar ingin sembuh, pecandu terlebih dahulu harus menguatkan tekad dan tentu saja meninggalkan lingkungan lamanya. Namun terkadang tekad yang kuat saja tidak cukup untuk bisa terbebas dari jeratan candu narkoba.

Kebanyakan pecandu membutuhkan bantuan terapi untuk bisa menghilangkan efek obat-obatan terlarang yang telah terlanjur merusak sistem di otaknya.

"Terapi-terapi ada bermacam-macam, ada yang dari medis, non medis dan spiritual," jelas dr Iskandar Hukom, Sekretaris Jenderal Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB)

Masyarakat umumnya mengenal rehabilitasi sebagai terapi untuk pengobatan kecanduan narkoba. Namun dr Iskandar mengatakan tidak semua pecandu bisa efektif menghentikan kebiasaannya hanya dengan masuk panti rehabilitasi dan dirawat inap.

Terkadang masuk panti rehabilitasi justru dapat membawa dampak buruk bagi pecandu, terutama yang menggunakan narkoba hanya sebagai social user (karena alasan bersosialisasi).

"Tidak semua pecandu harus direhab, karena rehabilitasi identik dengan rawat inap. Bisa saja berobat dengan rawat jalan asal dengan aturan yang ketat. Terkadang yang rawat inap malah berdampak negatif, apalagi untuk social user karena yang biasanya dimasukkan rehab kan hardcore, bisa-bisa dia malah terkontaminasi," lanjut dr Iskandar.

Jadi menurut dr Iskandar, sebelum memasukkan pecandu ke panti rehabilitasi, perlu dilakukan assessment yang berulang-ulang dan tidak bisa dipukul rata untuk semua pecandu.

Menurut dr Iskandar, ada beberapa terapi narkoba yang ditawarkan di Indonesia, antara lain:

1. Terapi medis
Terapi medis biasanya dilakukan dengan memberikan pasien obat-obatan yang dapat menurunkan efek sakaw pada pecandu, ditambah dengan psikoterapi dan konseling suportif.

2. Terapi non medis atau spiritual
"Ada yang namanya program 12 langkah. Program ini dikenalnya di Amerika pada tahun 50-an saat banyak orang yang kecanduan narkoba, alkohol, rokok, judi, pornografi. Di setiap langkah si pecandu diajak tahan dan setiap langkah juga dievakuasi terus oleh mentor. Setelah ke-12 langkahnya selesai, nanti akan diulang lagi dari awal," jelas dr Iskandar.

Selain terapi program 12 langkah, ada juga komunitas terapi (therapy community). Terapi ini juga diperkenalkan di Amerika pada tahun 60 atau 70-an, saat banyak penjara-penjara kasus pecandu yang menyatukan antara pecandu dan bandar.

"Pecandu dan bandar itu tidak bisa disatukan, karena bisa-bisa si pecandu malah makin terkontaminasi," jelas dr Iskandar.

Prinsip terapi ini adalah 'dari kita untuk kita'. Jadi dalam sebuah terapi, pecandu akan membuat aturannya sendiri yang kemudian akan diterapkan oleh pecandu-pecandu lainnya. Kemudian perkembangan pecandu akan dipantau dari rekap center.

"Ini yang paling banyak diterapkan. Tapi biasanya masing panti-panti akan menggunakan terapi yang dimodifikasi," lanjut dr Iskandar.

3. Terapi alternatif
Selain terapi medis dan non medis atau spiritual, ada pula terapi alternatif. Contohnya terapi rebus pasien yang terdapat di Purbalingga, Jawa Tengah.

Terapi ketergantungan narkoba yang dilakukan Ahmad Ichsan Maulana atau Ustadz Ichsan (38) terbilang ekstrim dan unik. Terapi dilakukan dengan merebus pasien di dalam drum di atas kompor yang menyala.

Cara yang dilakukan pengelola Yayasan Pendidikan Islam Nurul Ichsan Al-Islami Syifa Ar-Ridlo di Dukuh Legoksari, Desa Karangsari, Kecamatan Kalimanah, Purbalingga, Jawa Tengah ini dilakukan seperti orang merebus jagung, kacang atau ketela. Bedanya drum terapi ini tak ditutup, melainkan dibiarkan terbuka.

Ustadz yang dijuluki Kyai Godog ini mula-mula memanasi air di dalam drum setinggi dada. Begitu air sudah mendidih, air akan diberi ramuan-ramuan dan ragi tempe. Kemudian air dicampur air tawassul.

Untuk meyakinkan pasien, ustdaz dan istrinya akan memberi contoh berendam secara bergantian di dalam drum. Setelah pasien merasa mantap selanjutnya giliran pasien nyemplung.

Selama proses perebusan, yakni 30 menit, si pasien akan duduk di kursi kecil. Sang Kyai meminta tetap tenang atau tidak takut. Tak jauh dari drum ada televisi yang dinyalakan untuk ditonton oleh si pasien selama direbus. Tujuannya agar pasien merasa enjoy berendam. Justru ketika merasa panik, air yang sudah mendapat perlakuan khusus semacam didoakan itu terasa panas.

Menurut ustadz yang dijuluki Kyai Godog, air yang panas itu terasa hangat oleh pasien. Cara merebus kata sang kyai merupakan upaya untuk mengeluarkan toksin atau racun dari tubuh pasien.

Menurutnya pasien yang mengalami ketergantungan ekstasi dan dextro akan direbus empat hingga lima kali. Untuk pecandu sabu-sabu bisa direbus hingga delapan kali. Yang paling berat adalah pecandu heroin karena akan direndam hingga 15 kali.
Sumber

7 Penyakit Yang Akan Menghantui Para Pengguna Narkoba

0 komentar


Narkoba yang digunakan tidak hanya berdampak buruk bagi penampilan si pecandu saja, karena penyakit-penyakit tertentu diketahui kerap mengintai para pemadat ini. Apa saja itu?

"Untuk narkoba suntik karena biasanya menggunakan jarum bersama-sama memicu penyakit hepatitis B dan HIV, untuk narkoba yang lain risikonya lebih besar ke otak," ujar Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi, PhD, FACP

Berikut ini adalah beberapa penyakit yang kerap mengintai para pecandu yaitu:

1. HIV AIDS
Pengguna narkoba suntik diketahui turut menyumbang peningkatan jumlah orang yang terinfeksi HIV AIDS, hal ini karena sebagian besar pengguna narkoba menggunakan jarum suntik secara bergantian dan juga melakukan hubungan seksual yang tidak aman serta berganti-ganti pasangan.

Umumnya seseorang tidak menyadari jika dirinya terinfeksi HIV karena sebagian besar tidak bergejala, sehingga rentan menularkan pada orang lain. Namun saat sistem kekebalan tubuhnya makin menurun maka mulai muncul gejala dan terkadang sudah masuk ke tahap AIDS.

2. Hepatitis B dan C
Selain HIV, penyakit hepatitis B dan C juga banyak dialami oleh pengguna narkoba suntik. Virus hepatitis B dan C ditularkan lewat darah yang bisa berasal dari saling tukar jarum suntik oleh IDU (Injection drug user), serta alat tato yang tidak disteril. Umumnya seseorang tidak menyadari jika ia terinfeksi penyakit ini hingga kondisinya semakin parah bahkan bisa menjadi sirosis serta kanker hati.

3. Kemampuan kognitif menurun
"Beberapa narkoba risikonya lebih ke otak seperti kemampuan berpikir dan mengingat atau kognitifnya jadi menurun, untuk remaja biasanya prestasi di sekolahnya menurun," ujar Prof Samsuridjal.

Hampir semua narkoba bisa berdampak buruk bagi otak dan kemampuan kognitifnya, seperti ekstasi yang membuat orang kehilangan ingatan dalam jangka waktu lama, tidak mampu berpikir, ekstasi membuat sulit konsentrasi, ganja menyebabkan gangguan persepsi dan berpikir, serta shabu yang menyebabkan gangguan saraf.

4. Gangguan pada hati (liver) dan ginjal
Seperti diketahui kedua organ ini berfungsi menyaring dan mengeluarkan racun-racun yang ada di dalam tubuh. Namun pada pengguna narkoba proses penetralan dan pengeluaran racun dari dalam tubuh ini menjadi terganggu, sehingga hati dan ginjal harus bekerja lebih keras yang membuatnya berisiko mengalami gangguan atau rusak.

Risiko ini bisa dialami oleh semua pengguna narkoba terutama pemakai ekstasi, heroin, kokain yang memicu gagal ginjal, serta shabu-shabu.

5. Gangguan paru-paru dan pernapasan
"Untuk yang dihirup bisa mengganggu paru-paru karena umumnya barang yang dijual di pasaran merupakan hasil oplosan," ujar dr Iskandar Hukom yang merupakan Sekjen YCAB (Yayasan Cinta Anak Bangsa).

dr Iskandar menuturkan dalam barang oplosan itu seringkali ditemukan zat tertentu yang sebenarnya tidak boleh masuk atau terhirup ke dalam tubuh sehingga dapat mengganggu paru-paru serta pernapasan.

6. Infeksi menular seksual
dr Iskandar menuturkan pengguna narkoba lebih rentan terkena infeksi menular seksual (IMS) akibat sering bergonta ganti pasangan serta cenderung melakukan hubungan seks yang tidak aman.

7. Gangguan jiwa
Pecandu atau pengguna narkoba jangka panjang akan membuat zat-zat kimia dalam barang haram tersebut membuat sistem sarafnya rusak dan merangsang kelainan perilaku seperi berhalusinasi, ilusi dan gangguan cara berpikir yang memicu gangguan kejiwaan.
Sumber

Tips Supaya Anak Anda Tidak Terjebak Dengan Narkoba

0 komentar


Dukungan orangtua dan lingkungan berperan sangat besar untuk mencegah anak agar tidak terperangkap jeratan Narkoba (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya). Ada beberapa cara yang harus dilakukan orangtua untuk dapat melindungi buah hatinya.

Maraknya penyalahgunaan narkoba di kalangan anak-anak (muda) selayaknya orangtua melakukan introspeksi. Jangan hanya menyalahkan pergaulan anak tetapi juga perlu dilihat bagaimana orangtua memperlakukan anak-anaknya. Orangtua sekarang dituntut untuk lebih peka dan terbuka terhadap perubahan keadaan sekelilingnya, terutama yang menyangkut kebutuhan anak-anak.

"Untuk mencegah agar anak tidak sampai terpengaruh narkoba, kita biasanya mengajarkan pada orangtua 5 KENAL," jelas dr Iskandar Hukom, Sekretaris Jenderal Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB)

Menurut dr Iskandar, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua agar anaknya tidak terpengaruh narkoba:

1. Kenal narkoba dan dinamikanya
Pada tahap ini, orangtua harus memiliki pengetahuan tentang jenis-jenis narkoba, hukum yang berlaku, gejala-gejala kecanduan dan segala dinamikanya, sehingga ia bisa mengenali atau memberi pengetahuan yang sama pada anaknya agar tidak mudah terjerumus.

2. Kenal diri sendiri
Orangtua harus mengenali gaya parenting atau tipe pengasuhan yang bisa ia terapkan pada putra-putrinya. Selain diri sendiri, ia juga harus mengenali gaya pengasuhan pasangannya.

Hal ini diperlukan karenaa orangtua memiliki tugas untuk mengasuh, membesarkan, mendidik dan mengembangkan talenta agar anak memiliki kepribadian tidak ada cela. Agar menjadi panutan (teladan) anak, orangtua juga harus sentiasa mengajarkan hal-hal yang baik, karena perilaku orangtua sering menjadi inspirasi anak.

3. Kenal anak-anak
Orangtua harus tahu benar tipe dan sifat-sifat putra-putrinya. Hal ini akan memudahkannya untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan baik.

Orangtua bisa membuat peraturan keluarga yang disepakati bersama untuk melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba di lingkungan keluarga.

4. Kenal teman-teman anak
Teman adalah orang yang sangat dekat dengan anak, terutama bila sang anak sudah memasuki usia pubertas. Terkadang anak justru lebih dekat dan terbuka dengan teman ketimbang orangtuanya sendiri.

"Orangtua harus bisa mengenali teman-teman anak, keluarganya siapa, bagaimana pergaulannya," jelas dr Iskandar.

Cobalah luangkan waktu untuk mengawasi dan memantau anak dan teman-temannya, di mana mereka berada, melakukan apa disana, dengan siapa saja, melakukan kegiatan dan siapa yang bertanggungjawab dan sebagainya.

5. Kenal lingkungan
Dan yang tak kalah penting adalah kenali lingkungan, baik lingkungan tempat tinggal, sekolah dan lingkungan bermain.

Ada baiknya Anda mengikuti perkumpulan orangtua untuk saling tukar-menukar informasi sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki mudah untuk mengatasi atau melakukan pencegahan sebelum terjadi sesuatu yang tidak dinginkan.
Sumber

Cahaya Yang Menyilakukan Bisa Bikin Bersin ?

0 komentar


Menatap matahari secara langsung biasanya hanya membuat mata pedih karena terlalu silau. Namun bagi 18-35 persen orang yang mengalami photic sneeze reflex, silaunya sinar matahari juga bisa membuat hidung gatal lalu bersin-bersin.

Salah satu penderita kelainan ini adalah Dr Roberta Pagon, serang dokter anak dari Seattle Children Hospital. Setiap kali matanya menatap matahari, reaksinya adalah langsung bersin-bersin dan tidak hanya sekali melainkan 3 kali berturut-turut.

Riwayat bersin-bersin saat menatap matahari juga dialami oleh kedua anak Dr Pagon, yang kebetulan juga selalu bersin sebanyak 3 kali. Kini, cucunya juga mulai menunjukkan kecenderungan yang sama meski jumlah bersinnya lebih sedikit yakni hanya 1 kali.

Dalam sebuah konferensi ilmiah, Dr Pagon kembali menemukan bahwa 4 dari 10 rekannya juga mengalami kecenderungan bersin saat menatap matahari. Bersin-bersin kadang juga terjadi saat melibat sumber cahaya lain yang menyilaukan, seperti lampu blitz kamera.

Setelah berdiskusi, Dr Pagon dan beberapa rekan membuat akronim atau singkatan untuk kelainan yang dideritanya yakni ACHOO Syndrome. Kepanjangannya adalah Autosomal Dominant Compelling Helio-Ophthalmic Outburst (ACHOO) yang antara lain diwariskan melalui gen.

Meski kedengarannya unik, kecenderungan untuk bersin saat menatap matahari atau yang memiliki istilah resmi photic sneeze reflex ini sebenarnya tidak benar-benar langka. Diperkirakan 18-35 persen manusia mengalaminya dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Dr Pagon menambahkan, sedikitnya ada 2 teori yang bisa menjelaskan kecenderungan ini. Pertama, refleks bersin ini terbentuk di batang otak atau tulang belakang yang bekerjanya sangat sensitif terhadap pengaruh cahaya terutama yang menyilaukan.

Kemungkinan kedua adalah posisi saraf optik berada terlalu dekat dengan saraf trigeminal sehingga juga ikut berperan saat bersin. Nicolas Langer, PhD, ahli bedah saraf dari University of Zurich mengatakan, jika saraf optik diaktifkan maka saraf trigeminal akan segera memicu bersin.

Pada umumnya, gangguan ini tidak menyebabkan bahaya serius. Namun  gangguan ini bisa sangat membahayakan untuk profesi tertentu seperti poilot pesawat terbang, atlet baseball maupun kegiatan ekstrem lain yang butuh konsentrasi tinggi.
Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Sahabat Kesehatan © 2012 | Design by Unlock iphone | powered by blogger